Banjir yang melanda Sumatera Barat beberapa waktu lalu meninggalkan dampak serius bagi sektor pertanian. Di Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, sekitar 108 hektar lahan sawah rusak, dari kategori rusak sedang hingga rusak berat. Padahal, 80% warga setempat menggantungkan hidup dari pertanian, khususnya sawah.
Kondisi ini menjadi ancaman nyata bagi penghidupan warga sekaligus ketahanan pangan lokal. Menyikapi hal tersebut, Lokadesa memulai langkah pemulihan lahan berbasis pemberdayaan petani.
Upaya ini berawal dari pertemuan Direktur Lokadesa dengan Pak Insinyur Djonny, pencetus konsep Sawah Pokok Murah, di Agam. Diskusi membahas strategi pemulihan sawah pasca banjir agar lahan terdampak dapat kembali produktif dan dikelola secara berkelanjutan.
Sebagai tindak lanjut, disepakati program Sekolah Lapang Petani Terdampak Banjir bertajuk Petani Bangkit, Sawah Pulih. Program ini diikuti oleh 20 petani perwakilan kelompok tani di Tanjung Raya dan akan dilaksanakan dalam 8 kali pertemuan setiap hari Kamis.
Sekolah lapang dirancang sebagai ruang belajar bersama di lahan sawah. Petani terlibat langsung dalam menentukan kriteria dan lokasi pemulihan, menyusun jadwal kegiatan, hingga berpartisipasi membangun saung sebagai ruang diskusi dan pelatihan. Pendekatan ini menempatkan petani sebagai subjek utama dalam proses pemulihan.
Melalui sekolah lapang ini, Lokadesa mendorong pemulihan fungsi sawah sebagai sumber kehidupan dan pondasi ketahanan pangan masyarakat. Dengan pengetahuan yang sesuai kondisi lokal, petani diharapkan mampu mengelola kembali sawah rusak secara bertahap dan mandiri.
Inisiatif ini menjadi bagian dari komitmen Lokadesa dalam mendampingi desa menghadapi dampak bencana dan perubahan iklim, sekaligus membuka harapan bagi pertanian yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
