About Us

About Us
Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.

Contact Info

684 West College St. Sun City, United States America, 064781.

(+55) 654 - 545 - 1235

[email protected]

Rembuk Tani SPM (Sawah Pokok Murah) Se-Jawa Barat: Perkuat Kolaborasi Petani untuk Kemandirian dan Ketahanan Pangan

Bandung, 23–24 Juni 2026 – Di tengah berbagai tantangan sektor pertanian, mulai dari krisis pangan hingga minimnya regenerasi petani, Lokadesa menyelenggarakan kegiatan Rembuk Tani Sawah Pokok Murah (SPM) Se-Jawa Barat sebagai ruang temu, belajar, dan kolaborasi antar petani.

Mengusung tema “Tingkatkan Kolaborasi, Kuatkan Ketahanan Pangan dengan Sawah Pokok Murah”, kegiatan ini menghadirkan para petani SPM dari berbagai wilayah di Jawa Barat untuk bersama-sama mendiskusikan realitas yang mereka hadapi di lapangan.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Ir. Djony selaku pencetus SPM bersama tim Dangan Inspirasi yang bergabung secara daring. Dalam penyampaiannya, beliau menegaskan harapannya agar SPM dapat terus berkembang, menjangkau lebih banyak wilayah, dan memberikan dampak nyata bagi petani di berbagai daerah.

Selama dua hari pelaksanaan, kegiatan ini tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga ruang refleksi atas berbagai persoalan yang semakin nyata dirasakan petani. Mulai dari tingginya biaya produksi, ketergantungan terhadap pupuk kimia, hingga tantangan besar dalam regenerasi petani yang kini semakin berkurang.

Melalui sesi rembuk, para peserta diajak untuk menggali langsung permasalahan yang mereka hadapi, kemudian bersama-sama merumuskan solusi yang relevan dan kontekstual. Dalam kelompok-kelompok kecil, petani mendiskusikan tantangan di wilayah masing-masing, berbagi pengalaman, hingga menyusun rencana tindak lanjut yang dapat diterapkan secara nyata di lapangan. Hasil diskusi kemudian dipresentasikan, membuka peluang kolaborasi lintas daerah dan memperkuat jejaring antar petani.
Selain diskusi, peserta juga mendapatkan penguatan materi dari narasumber, salah satunya Kuswana, S.P yang membawakan topik praktik pertanian berkelanjutan. Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan pada teknik mulsa tanpa olah tanah sebagai pendekatan untuk menjaga kesuburan lahan sekaligus meningkatkan efisiensi produksi.

BACA JUGA  MACAM-MACAM MEDIA TANAM

Tidak hanya itu, peserta juga mengikuti demo uji kehilangan pupuk untuk memahami bagaimana nutrisi di dalam tanah dapat berkurang serta bagaimana strategi pengelolaannya agar tetap optimal. Pembelajaran ini menjadi penting, terutama dalam mendorong petani agar lebih mandiri dan tidak bergantung pada input kimia secara berlebihan.

Kegiatan ini juga diperkaya dengan sesi pemutaran video dan diskusi mengenai ekosistem pertanian serta praktik pelestariannya, sehingga peserta tidak hanya memahami aspek teknis, tetapi juga keterkaitannya dengan keberlanjutan lingkungan secara lebih luas.

Antusiasme peserta terlihat dari berbagai tanggapan yang disampaikan. Salah satunya datang dari Pak Iwa, peserta kegiatan, yang menyampaikan harapannya agar SPM terus berkembang dan berkelanjutan. Ia juga mengajak untuk menghilangkan stigma negatif terhadap profesi petani, dengan pesan sederhana namun kuat: jangan gengsi menjadi petani.
Melalui rangkaian kegiatan ini, Lokadesa berupaya memperkuat kapasitas petani dalam memahami dan mengimplementasikan konsep Sawah Pokok Murah (SPM). Lebih dari sekadar metode, SPM diharapkan menjadi pendekatan yang mampu mendorong kemandirian petani, mengurangi ketergantungan pada input eksternal, serta memperkuat ketahanan pangan berbasis desa.

Rembuk Tani ini juga menjadi langkah awal dalam membangun semangat baru bagi pertanian yang lebih kolaboratif dan berkelanjutan. Dengan mempertemukan petani dari berbagai latar belakang dan wilayah, kegiatan ini diharapkan mampu memicu pertukaran pengetahuan, memperluas perspektif, serta membuka jalan bagi regenerasi petani di masa depan.

Ke depan, inisiatif seperti ini diharapkan terus berlanjut dan berkembang, menjadi bagian dari gerakan bersama dalam menciptakan sistem pertanian yang lebih mandiri, adaptif, dan berkelanjutan dimulai dari desa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*