Krisis pangan bukan lagi isu yang jauh. Pelan-pelan, dampaknya mulai terasa dari harga bahan pokok yang terus naik hingga akses pangan yang makin tidak pasti. Dalam situasi seperti ini, rumah tangga menjadi pihak yang paling terdampak. Di saat dapur harus tetap “ngebul” setiap hari, tidak semua keluarga memiliki akses yang cukup dan stabil terhadap kebutuhan pangan.
Di Dusun Padaemut RT 13/8, Desa Kertajaya, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, warga memilih untuk tidak tinggal diam. Mereka mulai dari hal yang paling dekat dan sederhana pekarangan rumah sendiri. Lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan kini perlahan berubah menjadi sumber pangan keluarga.
Upaya ini berawal dari workshop yang diinisiasi oleh Lokadesa. Namun prosesnya tidak berhenti di ruang pelatihan. Warga didampingi untuk benar-benar mempraktikkan apa yang dipelajari di rumah masing-masing, dengan dukungan fasilitas dan pendampingan berkelanjutan.
Melalui program Kebun Pekarangan Mandiri, Lokadesa mendorong masyarakat untuk tidak hanya menanam, tetapi juga memahami bagaimana lahan bisa dimanfaatkan secara lebih bijak. Program ini bertujuan memulihkan ekosistem, mengoptimalkan pemanfaatan lahan, sekaligus menguatkan ekonomi keluarga.
Kini, di pekarangan rumah warga, mulai tumbuh berbagai sumber pangan. Padi ditanam menggunakan galon bekas, sayuran seperti kangkung dan bayam bisa dipetik kapan saja, sementara bumbu dapur seperti jahe dan kunyit tidak lagi harus selalu dibeli. Beberapa warga juga memelihara ayam sebagai sumber protein keluarga. Semua dilakukan secara sederhana, terintegrasi, dan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar.
Yang menarik, sebagian besar kebun pekarangan ini dikelola oleh ibu-ibu rumah tangga. Mereka yang setiap hari paling dekat dengan urusan dapur dan kebutuhan keluarga, kini juga berperan langsung dalam menjaga ketersediaan pangan. Dari aktivitas yang terlihat sederhana ini, perlahan tumbuh kemandirian baik dalam memenuhi kebutuhan pangan maupun dalam mengelola sumber daya yang dimiliki.
Dari upaya ini, berbagai dampak mulai dirasakan oleh warga, di antaranya:
- Kebutuhan pangan keluarga lebih terjaga
- Pengeluaran rumah tangga dapat ditekan
- Meningkatnya kemandirian pangan
- Lingkungan menjadi lebih hijau dan sehat
Krisis pangan global memang menjadi tantangan besar, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti konflik dan perubahan iklim. Namun, apa yang dilakukan warga Desa Kertajaya menunjukkan bahwa solusi tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Dari pekarangan rumah, langkah kecil bisa menjadi bagian dari jawaban.
Karena pada akhirnya, pekarangan bukan sekadar sisa lahan. Di tangan yang mau mengelola, ia bisa menjadi sumber kehidupan.
